Pada tahun 2026 ini, pasar saham dilanda kelesuan, dalam 6 bulan terakhir asing net sell cukup signifikan sebesar 86.74 trilyun, masa-masa emas ketika IHSG menyentuh puntjaknya pada akhir tahun 2025 berakhir sudah akibat vonis negatif MSCI terhadap saham-saham konglomerat yang kenaikannya sudah tidak masuk akal dan dipaksakan dipakai untuk menopang IHSG.
Pada masa menuju puntjak tersebut dimulai pada bulan Juli 2025 sampai Desember 2025 dan berakhir pada January effect 2026 Investor jadi-jadian mulai berdatangan, investor baru karena menang terus selama 6 bulan berturut, merasa bisa menguasai pasar, mendadak merasa sudah bisa menjadi trader profesional, duit bukan hanya ditanam di saham blue chip tapi juga ditumpahkan di saham saham konglomerat BRPT PTRO DSSA dan sebagainya dan sebagainya, tidak tanggung tanggung mengajak anak, teman semua bermain saham, nabung saham katanya, konsisten return katanya, tidak sadar bahaya mengintai karena dininabobokan keuntungan selama 6 bulan.
Praktis 6 bulan sejak masa keemasan IHSG itu bursa saham mulai terkoreksi tajam, awal-awal januari 2026, mereka merasa bahwa itulah diskon saham, mulai menambah eksplosure modal tambahan mulai dibenamkan di bursa saham, belum sampai 3 bulan sejak awal 2026 sudah bisa ditebak investor dan trader dadakan bertumbangan di tengah koreksi masif IHSG, IHSG terkoreksi 35% ! Ada yang terpaksa cut loss dengan sisa modal tidak sampai sepertiganya, ada juga karena uang dingin mencoba bertahan di market tapi tidak melakukan average down, atau switching portofolio ke saham-saham fundamental, sehingga praktis trading terhenti.
Saat Investasi dan trading berhentilah mulai muntjul apa yang dinamakan realized loss atau floating loss yang tidak tahu sampai kapan harga berbalik arah menuju modal awalnya.
Game over ! Ya... game over, investor yang menyerah dan berhenti memonitor market saat pasar terdiskon tajam sudah berakhir permainannya dengan result kekalahan yang tak terperi, karena walaupun masih tertanam saham di bursa tapi return sudah kurang di bawah return reksadana ataupun deposito, juga dana tersebut akan terparkir abadi di bursa saham.
Sejatinya ketika anda berhenti trading itulah tandanya semua kerugian sudah terealisasi penuh 100% dan modal anda tidak pernah akan kembali.
Permainan belum berakhir ketika anda masih bisa memonitor bursa walaupun dana tidak tersimpan lagi di bursa (cut loss), karena logikanya anda akan lebih mudah kaya dalam jangka menengah-panjang ketika masuk di pasar di periode bottom, tapi akan lebih mudah jatuh miskin ketika anda memulainya di periode puntjak akhir 2025.
Be Wise, be smart.
Jesse Livermore’s famous quote—“There is nothing new in Wall Street. There can’t be, because speculation is as old as the hills”—means that market patterns repeat because human emotions like greed and fear never change.

